Yogyakarta, 12 Agustus 2025—Dua dosen Podi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta tampil sebagai pemakalah dalam Konferensi ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia) 2025 yang mengangkat tema besar “From Manuscripts to Artificial Intelligence: Preserving the Hadith Legacy in the Digital Transformation”.
Konferensi tahunan bergengsi yang diselenggarakan selama dua hari di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini diikuti oleh 65 presenter dari berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Forum ini menjadi ajang diskusi ilmiah lintas disiplin, membahas perjalanan panjang kajian hadis mulai dari pelestarian manuskrip klasik hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Dalam forum tersebut, Umi Aflaha, M.S.I., dosen yang menekuni kajian hadis dan pendidikan pesantren, memaparkan penelitian berjudul “Studi Kitab Hadis di Pesantren Salaf dan Pesantren Modern”. Ia mengupas keberlanjutan tradisi studi hadis di dua model pesantren tersebut, sekaligus memotret dinamika dan tantangan yang dihadapi di era digital.
Sementara itu, Arif Nuh Safri, M.Hum., akademisi muda yang fokus pada isu gender dalam studi keislaman, menyajikan makalah berjudul “Objektifikasi Perempuan dalam Tafsir Al-Qurthubi (Analisis-Kritis atas Penggunaan Hadis dalam Penafsiran Ayat-Ayat tentang Perempuan)”. Pemaparannya mengajak peserta konferensi untuk melihat ulang bias tafsir klasik terhadap perempuan, khususnya melalui lensa penggunaan hadis.
Selain sesi pemaparan makalah, konferensi juga menjadi momentum penting bagi komunitas akademisi hadis nasional dengan terpilihnya Prof. Dr. Saifuddin Zuhri, S.Th.I., M.A. sebagai Ketua ASILHA periode 2025–2029.
Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta, M. Ikhsanudin, M.S.I., mengungkapkan rasa bangga atas kontribusi kedua dosen tersebut.
“Partisipasi ini bukan hanya mengharumkan nama kampus, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi ilmiah kita mampu bersaing dan memberi warna dalam percakapan akademik nasional,” ujarnya.
Keikutsertaan ini menegaskan komitmen IIQ An Nur dalam mengawal tradisi kajian hadis, memadukan khazanah klasik dengan teknologi modern, dan memastikan warisan keilmuan Islam tetap hidup di tengah arus transformasi digital global. [NA].
