KH. Yudian Wahyudi dan Potensi Ego yang Menular

Yudian

Ushuluddin, Artikel – Pada awal abad XX, melalui bukunya The Secrets of the Self, Muhammad Iqbal mengatakan ada tiga (3) hal yang dengannya seseorang bisa menggapai titik puncak dalam dirinya: afirmasi diri (self-affirmation), ekspresi diri (self-expression), dan pengembangan diri (self-development).[1]

Ketika bisa melakoni tiga jalan tersebut, berarti ia berhasil merengkuh apa itu yang Iqbal sebut khudi atau ego. Di benak Iqbal, ego adalah apa pun yang kita miliki sebagai individu.

Tanpa ego, individu yang tersadarkan (the awakened individual) tidak akan pernah lahir di dunia. Tanpa ego, masyarakat Muslim ideal (the new Mecca) tidak akan sanggup muncul kembali. Begitu tegas Iqbal dalam sajak-sajaknya.

Untuk mendapatkannya, kita perlu selesai terlebih dulu di tahap afirmasi diri. Tahap ini mengandaikan kita untuk melakukan pemetaan atas segenap pengalaman yang kita punya, menerimanya dan lantas merayakannya.

Buku karangan KH. Yudian Wahyudi, Tajdid-Tajdid Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D: Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma’?, adalah contoh konkret produk yang menetas dari proses self-affirmation seorang KH. Yudian Wahyudi.

Di dalamnya, kita tidak saja menjumpai peta pengalaman KH. Yudian Wahyudi yang distingtif—mulai dari kedekatan Yudian dengan Sadari, beragam versi pembibitan, lintasan hidup dengan Prof. Sis, keakraban dengan Minhaji, hingga polemik Salam Pancasila—tapi juga nuansa perayaan yang meriah, optimis, dan menular.

Di beberapa fragmen tentu ada kisah sendu dan dramatis yang menyembul, seperti ketika ia diremehkan pembimbing tesisnya di McGill Kanada (hlm. 44) dan tidak lolos seleksi menjadi Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga (hlm. 58). Meski demikian, dengan sangat lihai Yudian berhasil menyulapnya menjadi keriuhan yang menyenangkan dan menginspirasi. Membaca Tajdid-Tajdid terasa seperti menikmati alunan musik yang dibawakan penyanyi jazz Tulus. Nada-nadanya minor tapi bingkainya menggugah.

Esai ini mencoba mengulas buku Tajdid-Tajdid dari segi perkembangan khudi pengarang, KH. Yudian Wahyudi, sebagai individu. Akibatnya,di sini Tajdid-Tajdid diposisikan sebagai sebentuk monumen tempat Yudian menumpahkan prosesnya menggapai khudi dan menjadi the awakened individual.[2]

Metode “penceritaan kembali”

Kali pertama saya mengenal KH. Yudian Wahyudi adalah ketika ia menjadi Rektor UIN Sunan Kalijaga pada 2016. Kala itu, saya masih semester VI dan layaknya mahasiswa lainnya, rasa penasaran terhadap rektor baru memenuhi dada saya.

Guna membunuh rasa tersebut, saya putuskan untuk ke perpustakaan, mencari buku-buku karangan KH. Yudian Wahyudi. Kepercayaan saya waktu itu, seorang rektor tidak mungkin tidak memiliki suatu karya yang memesona.

Selepas mencari di sana-sini, apa yang saya yakini terbukti. Saya dipertemukan dengan buku KH. Yudian Wahyudi berjudul Ushul Fikih Versus Hermeneutika: Membaca Islam dari Kanada dan Amerika.[3] Sebagai mahasiswa S1, kesan pertama yang muncul ke permukaan adalah buku ini berani, blak-blakan, dan cara menarasikannya unik!

Jika buku-buku populer lain, khususnya yang ditulis oleh rektor UIN Sunan Kalijaga sebelumnya, cenderung fokus—untuk tidak bilang terjebak—pada isu yang didiskusikan dan mengabaikan pengalaman pribadinya, maka Yudian tidak. Ia justru mengoptimalkan segenap pengalamannya untuk merespons isu tertentu.

Sampai akhirnya saya berjumpa dengan buku yang sedang kita diskusikan ini, ternyata elan KH. Yudian Wahyudi tersebut tetap sama. Dalam Tajdid-Tajdid, Yudian masih menggunakan gaya retelling-nya, menceritakan kembali fragmen pengalamannya, memetakan dengan jeli, dan mengekspresikannya dalam bentuk gagasan yang mencerahkan.

Mencerahkan yang saya maksud lebih pada bagaimana Yudian berhasil membumikan konsep-konsep langit yang sebelumnya tidak tersentuh bahkan terpikirkan oleh kebanyakan intelektual Indonesia. Kita bisa mencermati narasi di bawah ini:

“Jadi, alumni S1 akan bergelar K. dari Pesantren Nawesea dan S.H. misalnya jika dia kuliah di Prodi Ilmu Hukum. Alumni S2 akan bergelar K. dari Pesantren Nawesea dan M.H., misalnya jika dia kuliah S2 di Prodi Ilmu Hukum… Dengan demikian akan terlahirkan kembali pewaris Nabi Nuh (K.H. + S.T. + M.T. Perkapalan), Nabi Daud (K.H. + S.T. + M.T. Militer), Nabi Isa (K.H. + dr.)… Puncaknya adalah Prof. Dr. KH., SH. dan sebagainya. Dari sinilah umat Indonesia akan memperbaiki kualitas ulama mereka, sehingga akan memperbaiki peradaban.”

Kutipan ini saya ambil dari potongan cerita KH. Yudian Wahyudi tentang terobosan pembibitan mahasantri di Pesantren Nawesea yang sudah dimulai per Januari 2022. Di sini Yudian membeberkan kurikulum yang ia gunakan untuk menempa para santri Nawesea yang juga sebagai seorang mahasiswa (hlm. 22 – 24).

Di paragraf terakhir, untuk memungkasi gagasannya terkait gelar kiai atau K. bagi lulusan Pesantren Nawesea, ia menampilkan pandangan yang—sependek pengetahuan saya—belum ada presedennya. Ia memahami perjuangan para Nabi sebagai sesuatu yang siapa pun bisa melanjutkannya: Nabi Nuh, Nabi Idris, hingga Nabi Isa.

Pendekatan yang sederhana seperti ini pasti akan lebih bisa diterima oleh masyarakat luas dan berpengaruh secara konkret ketimbang menyodorkan narasi hikmah ala dongeng pengantar tidur anak-anak yang mengambang. Walhasil, tepat di celah ini, adalah tidak berlebihan jika saya katakan, apa yang Yudian kerjakan di balik Tajdid-Tajdid adalah tahap kedua dan ketiga dari suluk menuju puncak khudi, yakni self-expression dan self-development atau dalam istilah Yudian sendiri adalah menjadi history maker.

Jauh-jauh hari Iqbal mewanti-wanti, ketika seorang individu sudah sampai pada puncak khudi dan lantas menyandang khalifah fi al-ardl, di situ ada tanggung jawab besar yang sedang menanti. Meski demikian, saya rasa dengan segenap “manuver akademik plusnya”, KH. Yudian Wahyudi akan senantiasa siap menghadapinya.

Sebelum saya lanjut, kembali sejenak pada perjumpaan saya dengan Ushul Fikih versus Hermeneutika, kesan lain yang masih hangat—dan akan selalu segar—dalam ingatan saya tentangnya adalah ihwal sampul buku. Saya tidak pernah menjumpai kover yang se-representatif itu: potret bumi mengenakan kacamata 3D dan sedang membaca kitab kuning. Kreatif!

Ego yang menjalar

Di masa dan konteks yang berbeda dari Muhammad Iqbal, Ali Shariati tampil dengan gagasannya tentang Rausyan Fikr (RF). RF identik dengan the awakened individual Iqbal. Hanya saja Shariati lebih lugas dalam mendefinisikan siapa saja yang patut menjadi RF.[4] Mereka yang memiliki perhatian mendalam pada komunitasnya—entah negara atau semacamnya—dan berupaya sekuat tenaga untuk mengubahnya, tegas Shariati, adalah RF.

Dalam kaitannya dengan ini, melalui Tajdid-Tajdid KH. Yudian Wahyudi berhasil memaksa saya untuk bersikap jujur pada apa dan siapa pun. Satu dekade silam, sebelum berinteraksi dengan buku-buku Yudian, puncak prasangka kritis saya pada dosen adalah bahwa mereka sudah jarang baca buku—karena kesibukannya pada administrasi dan proyek—sehingga apa pun yang mereka sampaikan di kelas perlu ditelaah ulang lewat publikasi-publikasi mutakhir.

Namun, pascaperjumpaan dengan cerita-cerita Yudian, praduga tersebut berevolusi. Yudian memberi fasilitas terbaiknya untuk perkembangan rasa penasaran saya pada kampus. Hal-hal yang tidak seharusnya saya tahu sebagai mahasiswa S1—seperti gesekan antara PMII dan HMI, aksi saling jegal untuk jabatan, dan aksi saling hina antardosen—saya mengetahuinya. Jika beruntung, melalui beberapa bukunya, bahkan saya bisa tahu persis nama-nama pihak yang terlibat sengketa. Ini adalah privelese sekaligus beban.

Dalam Tajdid-Tajdid, keterbukaan itu salah satunya tampak dalam scene ketika Yudian hendak mengajukan surat permohonan pindah dari Fakultas Syariah ke Program Doktoral di PPs UIN Sunan Kalijaga (hlm.51). Ia menulis:

“Surat permohonan saya sudah disetujui oleh rektor, tetapi ada yang menahan: tidak diproses oleh orang yang masih terkait dengan ancaman: ‘Ojo ngasi Yudian mulang neng Pasca!’ Saya tidak melapor ke Minhaji. Saya tidak ingin membebani Minhaji karena ia sakit, sehingga saya tidak pernah menjadi Dosen Tetap Program Doktor.”

Hal senada bisa dicermati dalam narasi yang ini (hlm. 52), “Di sisi lain, orang yang mengatakan ‘jika Yudian dan pasukannya (sakbalane) ingin menjabat, jilati dulu pantat saya’ juga terdiam.”

Bila ada yang bilang tidak semua orang siap menerima kebenaran, maka sayalah orangnya kala itu, belum lagi ketika ada kisahan yang berbenturan langsung dengan dosen saya di Fakultas Ushuluddin.

Walau begitu, lewat sikap jujur Yudian ini, seolah saya tengah diberikan kesempatan untuk turut melakukan self-affirmation, berani menemukan apa yang senyatanya terjadi pada lingkaran sosial-politik-akademik saya, dan self-expression untuk kemudian belajar mengambil sikap, menuju puncak khudi.

Di atas semuanya, ada satu yang masih saya ragukan dalam buku Tajdid-Tajdid. Apa itu? Porsi diskusi tentang Pancasila! Sub-judul terakhir Tajdid-Tajdid dan yang membuatnya beda dari buku-buku pembaruan KH. Yudian Wahyudi adalah Mem-“Pancasila”-kan Al-Asma’?, tapi bahasan khusus Pancasila hanya mengambil sejumlah 17 halaman dari total 105.

Sebagai warga negara yang baik, tentu ada yang kurang puas dalam benak saya, tapi sebagai individu yang mendambakan kebebasan, andai ada rencana cetak ulang, adalah lebih kalis jika judulnya saja yang diubah ketimbang menambahkan konten kelindan Pancasila dan Al-Asma’. Betapa pun, potensi besar ego seorang Yudian Wahyudi bukan terletak pada aspek eksternal, tapi tercukupi dalam dirinya sendiri. Salam Pancasila!

Penulis: Muhammad Saifullah
Keterangan: artikel ini memenangkan Lomba Resensi Buku Nasional 2022 yang diselenggarakan oleh Pesantren Nawesea bekerja sama dengan BPIP RI


[1] Muhammad Iqbal, The Secrets of the Self (London: MacMillan and Co., Limited, 1920)

[2] Monumen di sini merujuk pada suatu struktur yang diciptakan dalam satu waktu oleh orang atau kelompok tertentu dan dengan tujuan yang spesifik. Monumen selalu merefleksikan suatu realitas atau peristiwa yang biasanya berhubungan dengan penghormatan sekelompok orang pada tokoh atau tragedi khusus. Kenyataan bahwa buku Tajdid-Tajdid ditulis KH. Yudian Wahyudi dalam konteks interaksinya dengan kolega, guru, mahasiswa, murid, dan bahkan jemaatnya di Tarekat Sunan Anbia merupakan alasan mengapa konsep teks sebagai monumen saya pakai di sini. Dengan memosisikan Tajdid-Tajdid sebagai monumen, artinya saya berkeinginan untuk melihat apa saja yang sebenarnya terjadi di balik lahirnya monumen tersebut. Shoshana Felman dan Dori Laub menghubungkan monumen dalam pengertian ini dengan testimoni dan posisi seseorang yang memiliki penyaksian. Lihat Shoshana Felman dan Dori Laub, Testimony Crises of Witnessing in Literature, Psychoanalysis and History (New York: Routledge, 1992)

[3] Yudian Wahyudi, Ushul fikih versus Hermeneutika: Membaca Islam dari Kanada dan Amerika (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2006).

[4] Ali Shariati, Membangun Masa Depan Islam: Pesan untuk Para Intelektual Muslim, terj. Rahmani Atuti, cet. IV(Bandung: Penerbit Mizan, 1994).