Kaprodi IAT IIQ An Nur Jogja Bedah Makna Kesadaran dalam Diri Manusia

Kesadaran

Ushuluddin, Berita – Kaprodi IAT Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta Dr. Abdul Jabpar, M.Phil. membedah makna kesadaran dalam diri manusia dalam seminar nasional Fakultas Ushuluddin pada Senin (14/10).

Makna kesadaran yang dimaksud di sini berhubungan dengan bagaimana konsep tersebut memainkan peran penting dalam diskusi hermeneutika.

“Bila Pak Faiz tadi memetakan kesadaran hermeneutik menjadi empat, meliputi kesadaran pluralitas, progresivitas, historis, dan makna, maka di sini saya bisa bilang bahwa yang inti dari semuanya adalah yang terakhir,” ungkap Jabpar, sapaan akrabnya.

Makna kesadaran, tegas Jabpar, adalah kesadaran makna. Kesadaran makna merupakan fondasi dari hermeneutika. Tidak saja itu, bahkan kesadaran makna adalah fondasi dari kehidupan manusia.

Jabpar merujuk pada pandangan Heidegger, bahwa makna adalah roh dari bahasa. Bahasa adalah rumah dari ada dan keberadaan adalah awal dari apa pun.

Poinnya, menurut Jabpar, yang pertama dan paling utama dari apa pun, termasuk hermeneutika adalah bahasa. “Benar sekali. Semua ini tentang bahasa dan makna!” ungkapnya dalam seminar yang dipandu oleh Dosen Prodi IAT Fatimah Fatmawati, M.Ag.

Hermeneutika merujuk pada upaya untuk menyelesaikan problem makna dan melampaui kesalahpahaman. Problem makna tidak akan dan tidak bisa ada tanpa adanya bahasa.

“Jadi, begitulah mengapa di sini bahasa memainkan peran mendasar yang hubungannya adalah dengan kesadaran makna tadi,” jelasnya dalam diskusi yang digelar di auditorium IIQ An Nur Jogja.

Dalam mengulas tentang kesadaran makna, Jabpar menyebut Surah Al-Baqarah (2):31 tentang proses pembelajaran awal Nabi Adam dengan malaikat.

Disebutkan bahwa, materi pertama yang Nabi Adam terima adalah tentang al-asma’. “Al-Asma’ ini artinya kan bahasa. Jadi begitulah mengapa saya kira kesadaran makna penting,” pungkasnya.

Dalam forum ini, Jabpar berdiskusi dengan Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag dan dihadiri oleh segenap dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur serta sekitar 70 mahasiswa.–zv