Ushuluddin, Esai – Program pendampingan Qiraatul Kutub Lembaga Studi Ilmu Al-Quran dan Hadis (LSIQH) Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta sudah berjalan tiga kali sejak pertengahan Oktober bulan lalu. Namun, baru di pertemuan ini, kami menyelesaikan satu paragraf dari mukadimah Imam Gazali dalam Kimiya’ Al-Sa’adah.
Karena Imam Gazali, mukadimah yang kami baca tidak seperti mukadimah pada umumnya. Pujian-pujian yang Imam Gazali susun menyiratkan sesuatu yang menggodaku untuk mengulasnya di sini.
Imam Gazali membingkai pujiannya pada Gusti Allah dengan mengulas beragam kelas sosial masyarakat di masanya, yaitu shafi, wali, mu’min, ‘arif, ‘ibad, zahid, muttaqin, muqinin, akhyar, dan ahrar.
Setiap kelas sosial, menurut Imam Ghazali, memiliki persoalannya sendiri, seperti para shafi yang kebingungan dengan hatinya yang begitu dinamis, para ‘ibad yang berupaya untuk selalu menemukan kembali dirinya yang kerap hilang ditelan kesibukan, dan para ‘arif yang terus ragu dengan pemikiran-pemikirannya.

Penting dicatat, di sini Imam Ghazali menyebut shafi lebih dulu daripada wali. Artinya, ada kemungkinan, di benak Imam Ghazali posisi shafi lebih tinggi dibanding wali.
Shafi adalah orang-orang mengasah hatinya dengan mujahadah, sedangkan wali dengan musyahadah. Imam Ghazali melihat mujahadah lebih penting daripada musyahadah, kendati kita bisa juga melihatnya tidak dari logika hierarkis.
Di sisi lain, kita bisa membaca mukadimah tersebut dalam konteks spill dari Imam Ghazali bagi kita untuk mencapai kelas tertentu dalam masyarakat. Untuk bisa sampai pada kelas akhyar misalnya atau orang-orang yang bisa dengan mudah mengambil hati banyak orang, kita perlu melakukan salawat.
Salawat bisa kita pahami sebagai dua kondisi. Pertama adalah praktik memperbanyak membaca selawat dan kedua upaya mendisiplinkan diri dan hati melalui salat. Minimal salat lima waktu.

