Bantul, 15 Maret 2022—Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar kegiatan bertajuk “Workshop Redesain Kurikulum dan Redistribusi Mata Kuliah” pada Selasa (15/03/2022). Kegiatan ini berlangsung di Waroeng Omah Sawah (WOS), Gatak, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan, dosen, serta pengelola Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta. Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, S.Ag., M.Ag. dan Prof. Dr. Ahmad Baidowi, S.Ag., M.Si.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ushuluddin, H. M. Ikhsanuddin, M.S.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya pembaruan kurikulum sebagai respons terhadap dinamika keilmuan dan kebutuhan zaman, khususnya pada dua program studi unggulan, yaitu Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Ilmu Hadis (ILHA). Menurutnya, kurikulum harus bersifat adaptif terhadap perkembangan metodologi kajian Islam kontemporer sekaligus mampu menjawab tantangan global.
“Redesain kurikulum ini menjadi langkah bagi kita untuk memastikan lulusan Fakultas Ushuluddin memiliki kompetensi akademik yang kuat sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ikhsan berharap workshop ini mampu menghasilkan rumusan kurikulum yang integratif dengan memadukan khazanah klasik dan pendekatan kontemporer, serta memperkuat daya saing lulusan di dunia akademik maupun profesional.
Dalam sesi pemaparannya, Mustaqim memaparkan seputar desain kurikulum integratif-interkonektif dalam bidang IAT. Ia menyatakan bahwa studi Al-Qur’an tidak lagi cukup berfokus pada aspek tekstual semata. Perlu untuk juga mempertimbangkan konteks sosial, budaya, serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Mustaqim mengusulkan sejumlah poin dalam redesain kurikulum IAT, antara lain penguatan metodologi tafsir klasik dan kontemporer secara seimbang, integrasi kajian Al-Qur’an dengan ilmu sosial dan humaniora, penambahan mata kuliah tematik seperti tafsir lingkungan, gender, dan media, serta peningkatan kemampuan riset mahasiswa berbasis isu-isu aktual.
“Lulusan IAT di masa depan harus mampu menjadi problem solver yang dapat menjawab persoalan umat melalui pendekatan tafsir yang kontekstual,” ungkapnya.
Sementara itu, Baidowi memfokuskan pemaparannya pada penguatan epistemologi ILHA dalam kerangka akademik modern. Ia menegaskan bahwa kajian hadis perlu dikembangkan hingga pada tataran aplikatif. Tidak lagi hanya berkutat pada aspek sanad dan matan, meskipun keduanya tetap menjadi fondasi penting dalam studi hadis.
Baidowi menawarkan beberapa gagasan, di antaranya penguatan ilmu musthalah hadis dengan pendekatan kritis, integrasi studi hadis dengan teknologi digital, pengembangan kajian hadis tematik (seperti hadis pendidikan, politik, dan ekonomi), serta peningkatan keterampilan analisis sanad dan matan berbasis penelitian.
“Penting bagi Fakultas Ushuluddin untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan literasi digital agar mereka mampu mengakses dan mengkaji sumber-sumber hadis secara lebih luas dan akurat,” tuturnya. []
