Mahasiswa Ushuluddin IIQ An-Nur Unjuk Gagasan dalam Bahtsul Masail UNSIQ Wonosobo sebagai Wujud Penguatan Tradisi Keilmuan

BM - Mahasiswa Ushuluddin IIQ An-Nur Unjuk Gagasan dalam Bahtsul Masail UNSIQ Wonosobo sebagai Wujud Penguatan Tradisi Keilmuan

Wonosobo, 28 Oktober 2025 — Tiga mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin IIQ An-Nur Yogyakarta, Bima Pratama, M. Dliyaul Qalbi, dan Wildanul Mukhtar tampil sebagai perwakilan dalam kegiatan Bahtsul Masail yang diselenggarakan oleh Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 28 Oktober 2025, pukul 08.00–16.00 WIB, di Aula Al-A’la Kampus I UNSIQ Wonosobo, ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) IAT UNSIQ dalam rangka Harlah ke-16 Prodi IAT UNSIQ. Forum ilmiah tersebut dihadiri oleh para mushohih dan muharrir Bahtsul Masail, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan santri berbagai lembaga di wilayah Jawa Tengah dan DIY.

Adapun tema-tema yang dibahas dalam forum kali ini meliputi perkawinan kembar siam, problematika make up perempuan dalam perspektif syariah, dan isu perampasan aset serta tindak korupsi konvensional. Setiap persoalan dikaji dengan pendekatan dalil nash, kaidah fiqhiyyah, serta pertimbangan maqashid syariah, menjadikan diskusi berjalan hidup dan bernuansa keilmuan yang tinggi.

Sebelum keberangkatan, Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ An-Nur, M. Ikhsanudin, M.S.I., memberikan pembekalan kepada para delegasi agar menyiapkan diri dengan baik, terutama dalam memperdalam literatur terkait isu yang dibahas.

“Mahasiswa yang mengikuti forum seperti ini harus datang dengan kesiapan ilmu dan bacaan yang luas. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai peserta aktif yang berani menyampaikan argumen ilmiah. Diskusi yang berbobot hanya lahir dari referensi yang kuat,” ujar Dekan Fakultas Ushuluddin.

Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga sekaligus tantangan pertama dalam forum ilmiah tingkat mahasiswa.

“Awalnya kami sempat minder karena peserta lain membawa banyak kitab dan referensi, tapi ternyata justru di situ kami belajar banyak. Kami jadi tahu bagaimana dinamika Bahtsul Masail yang sesungguhnya,” ungkap Bima Pratama, salah satu peserta.

“Insya Allah ke depan kami akan lebih mempersiapkan diri dengan matang agar bisa tampil lebih percaya diri dan memberikan kontribusi yang lebih baik,” tambah Bima.

Keterlibatan mahasiswa Ushuluddin IIQ An-Nur Yogyakarta dalam kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan keilmuan sekaligus mengasah tradisi berpikir kritis dan argumentatif di kalangan mahasiswa. Melalui forum seperti ini, mereka berharap dapat terus menghidupkan semangat mujtahid muda, yang berani berfikir, berdialog, dan mencari solusi atas problematika keislaman kontemporer.

“Ini bukan sekadar ajang lomba berpikir, tapi latihan menjadi bagian dari tradisi keilmuan Islam yang berakar dan kontekstual,” tutup M. Dliyaul Qalbi dengan semangat.