Berani Bersuara di Era Scroll: Ushuluddin Siapkan Pasukan Dakwah Digital

Ushuluddin

Ushuluddin, Berita — Fakultas Ushuluddin menyelenggarakan workshop bertajuk “Wahyu dan Sunah di Era Scroll: Studi Al-Qur’an dan Hadis di Platform Media Sosial” pada Kamis, 19 Juni 2025. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Imam Machali sebagai pembicara utama dan dipandu oleh Khoirul Imam, dosen Fakultas Ushuluddin sebagai fasilitator.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, M. Ikhsanudin, M.Si., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dan akademisi Islam dalam dakwah di ruang digital. Ia menyampaikan bahwa “Jika kita memilih untuk diam, maka akan muncul narasi lain yang berbicara. Jika kita bersikap pasif, ruang dakwah akan kosong dan berpotensi diisi oleh pihak-pihak yang membawa pesan berbeda. Oleh karena itu, kita perlu hadir dan berkontribusi di ruang digital untuk menyuarakan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi semesta,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada para mahasiswa:

“Hasil pembacaan kalian dari kitab-kitab tafsir dan hadis, jangan hanya berhenti di ruang kelas. Jadikan itu sebagai konten yang bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh banyak orang di media sosial.”

Workshop ini diikuti oleh 30 mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Ilmu Hadis (Ilha), serta beberapa dosen Fakultas Ushuluddin. Materi workshop membahas peluang, tantangan, dan strategi dakwah berbasis media sosial yang sesuai dengan karakter generasi digital.

Prof. Imam Machali, dalam sesi pemaparannya, menekankan bahwa dakwah tidak harus selalu berupa ceramah formal. Dakwah bisa hadir dalam bentuk yang sederhana namun berdampak.

“Dakwah bukan soal ceramah. Ia bisa hadir dalam satu postingan bijak, satu komentar ramah, atau satu video pendek yang menyentuh. Mari ambil bagian, karena ruang digital adalah bagian dari medan dakwah kita hari ini,” jelasnya.

Sesi workshop dirancang interaktif, dengan mengupas strategi dakwah yang relevan di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Khoirul Imam, sebagai fasilitator workshop, memandu peserta dalam sesi praktik membuat konten dakwah yang relevan dengan nilai-nilai tafsir dan hadis, sekaligus ramah terhadap algoritma platform digital.

Sebagai penutup kegiatan, peserta dibagi menjadi 14 kelompok, yang masing-masing diberi tugas membuat konten media sosial bernuansa tafsir dan hadis. Hasil produksi konten ini akan dikurasi dan dipublikasikan melalui kanal resmi Fakultas Ushuluddin sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam dakwah digital.

Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal yang produktif dalam membentuk dai milenial yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi komunikasi.