Fahruddin Faiz Bagikan Trik Mudah Memahami Hermeneutika di Acara Ushuluddin

Faiz

Ushuludin, Berita – Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag. membagikan trik-trik mudah dalam memahami hermeneutika di acara seminar nasional Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta pada Senin (14/10).

Menurut Faiz, sapaan akrabnya, siapa pun yang ingin berlajar hermeneutika perlu memahami apa itu yang disebut “kesadaran hermeneutika”.

“Kesadaran hermeneutika adalah pijakan dari hermeneutika sebagai ilmu, teman-teman. Banyak orang pada dasarnya sedang ber-hermeneutika, tapi mereka tidak sadar. Ini bisa terjadi sebab mereka belum memiliki kesadaran hermeneutika,” jelasnya dalam acara yang digelar di auditorium IIQ An Nur.

Ada empat kesadaran hermeneutik, kata Faiz, antara lain: kesadaran pluralitas, kesadaran progresivitas, kesadaran historis, dan kesadaran makna atau perspektif.

Pertama berhubungan dengan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang beragam. “Ini sunnatullah ya, bahasa Islamnya, dan ini perlu disadari sejak awal agar kita tidak mudah marah pada orang lain,” ungkap Faiz.

Kedua merujuk pada kesadaran bahwa hidup adalah suatu perkembangan. Hidup tidak pernah berhenti. Apa yang seseorang banggakan pada satu waktu bisa jadi akan ia kutuk di hari kemudian.

“Bila kesadaran pertama tentang ruang, maka yang kedua ini soal waktu,” imbuhnya.

Ketiga menunjuk kesadaran bahwa pemahaman seseorang atas dunia adalah produk dari kesejarahannya sebagai manusia. Seorang yang dari kecil yatim cenderung sensitif dengan obrolan tentang keluarga ideal, orang tua, dan semacamnya.

“Kecenderungan tertentu dari sikap seseorang menjadi masuk akal ketika kita tahu latar belakangnya. Artinya kesadaran historis ini hubungannya dengan konteks. Ini bisa kita pakai juga untuk memahami Al-Quran. Tanpa paham konteks, kita rentan terjebak pada kesalahpahaman,” papar Faiz dalam diskusi yang dipandu oleh Dosen Prodi IAT IIQ An Nur, Fatimah Fatmawati, M.Ag.

Terakhir adalah kesadaran bahwa pada dasarnya semua tafsiran manusia atas apa pun merupakan hasil dari mindset yang telah dimiliki. Dalam menjelaskan ini, Faiz memberi contoh tentang menjadi bahagia.

Sebenarnya, ungkap Faiz, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak bahagia. Selalu ada celah kebahagiaan dalam setiap kehidupan manusia, persis dengan adanya celah kenestapaan.

“Poinnya, enak tidak enak itu soal makna,” pungkasnya dalam diskusi yang diramaikan juga oleh Kaprodi IAT IIQ An Nur Dr. Abdul Jabpar, M.Phil sebagai narasumber II.

Perlu diketahui, acara seminar nasional ini dihadiri oleh Rektor IIQ An Nur Dr. Ahmad Sihabul Millah, MA., Warek III IIQ An Nur Dr. Khoirun Niat, MA., Dekan Fakultas Ushuluddin M. Ikhsanudin, MSI., segenap dosen Fakultas Ushuluddin, dan sekitar 70 mahasiswa IIQ An Nur. –zv