Manusia Adalah Hewan yang Berspekulasi

Manusia Adalah Hewan yang Berspekulasi

Ushuluddin, Esai – Sudah hampir tiga bulan kami berdiskusi tentang Kimiya’ al-Sa’adah Imam Ghazali. Banyak konsep dan istilah yang telah kami pelajari dan coba untuk praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, baru pada hari ini kami menyadari satu hal, yaitu bahwa Imam Ghazali dalam bukunya tersebut lebih suka menyebut kita sebagai hewan daripada manusia. Diksi yang beliau pakai adalah dabbah atau dawab.

Yang paling tampak ada dalam ulasannya tentang bagaimana cara mengetahui hakikat diri. Menurut Imam Ghazali, diri kita sebagai hewan terdiri dari dua unsur utama: tubuh (al-jasad) dan al-nafs. Tubuh adalah entitas yang penting, tapi yang paling utama adalah al-nafs yang oleh Imam Ghazali dipahami sebagai hati (al-qalb).

Hati di sini berbeda dari hati atau liver yang berada di bawah dada bagian kanan dari tubuh manusia melainkan sesuatu yang diimpor dari alam lain yang tidak bisa dipandang oleh mata. Imam Ghazali membagi alam menjadi dua secara umum: ‘alam syahadah atau alam fisik dan ‘alam ghaib. Al-jasad adalah produk dari alam fisik dan al-qalb dari ‘alam ghaib.

Jadi bila ada teman kita yang di-ghosting gebetannya dan kemudian untuk mengekspresikan rasa sakit hatinya ia menekan bagian bawah kanan dadanya, maka sebenarnya itu tidak berdasar. Sebab rasa sakit yang ia rasakan tidak bersumber dari situ tetapi dari alam lain.

Kendati demikian, Imam Ghazali tidak memisahkan mereka begitu saja. Dalam kaitannya dengan liver, hati memiliki pasukan. Hati di benak Imam Ghazali adalah ratu. Semua anggota tubuh merupakan pasukannya yang bila semua ini kompak bisa berdampak pada kebahagiaan, meskipun ulama lain memiliki anggitan bahwa sang ratu bukan hati, tapi akal.

Perbedaan ontologis ini berdampak secara sosiologis. Kelompok yang satu geng dengan Imam Ghazali meyakini bahwa hewan atau manusia bisa saja telah mati di umur ke-20 tahun, tetapi baru dimakamkan pada umur ke-73. Ini bisa terjadi karena ukuran hidup-mati seekor hewan adalah hati. Saat hatinya tidak lagi difungsikan, di situlah ia telah mati.

Kelompok satunya menganggap sebaliknya. Ukuran mati seseorang adalah ketika otaknya tidak lagi bisa beraktivitas yang sebab ini, menurut beberapa orang, cara bunuh diri paling bijak adalah dengan menembak kepala. Rasa sakitnya hanya per sekian detik.

Beragam jiwa

Sebagai unsur utama dalam diri kita, hati adalah jalan satu-satunya untuk berinteraksi dengan beragam jiwa di dunia, termasuk jiwa dunia itu sendiri. Apa pun yang ada di dunia ini memiliki jiwa. Meja punya jiwa. Kopi punya. Rumput punya. Sapi juga.

Kita yang bisa mendengarkan, mengelola, dan memahami hatinya memiliki akses terhadap jiwa-jiwa tersebut yang di level tertentu, mereka bisa kompak mendukung takdir kita. Beberapa dari kita barangkali dilihat sebagai hewan yang memiliki aura mengerikan. Kenapa bisa begini? Sebab kehadirannya didukung oleh jiwa dari semua “benda” yang mengelilinginya.

Boleh jadi ia memiliki kesadaran bahwa pena di tangannya punya jiwa. Motor yang dinaikinya punya. Jaket lusuh yang dikenakannya juga, termasuk ponsel yang membantunya berkomunikasi setiap hari. Ia merawatnya dengan sepenuh hati, sehingga tidak perlu mengganti mereka dengan yang baru bila masanya masih ada atau belum rusak.

Ini terdengar seperti fiksi Marvel atau DC, tapi apa di dunia ini yang tidak fiksi? Hal-hal sederhana itu pada akhirnya membangun semacam ekosistem yang berpengaruh padanya, hingga ia memiliki aura yang mengerikan seperti karakter Ou Ki dalam Anime Kingdom.

Di level lebih lanjut, interaksi dengan jiwa dunia bisa membawa kita pada apa itu yang oleh ulama disebut kasyaf. Kita bisa mengakses informasi-informasi terlarang melalui jiwa semua materi yang ada di sekitar kita.

Hati: antara unsur malaikat dan ketuhanan

Hati memiliki potensi sedemikian rupa karena ia tercipta dari dua unsur: permata malaikat dan logam yang dicuilkan dari entitas ketuhanan (hadlrat al-jamal). Di awal disebut bahwa hati adalah produk importasi dari alam lain dan inilah penjelasannya. Al-qalb atau al-nafs adalah penduduk ‘alam ghaib yang diselipkan ke alam fisik melalui tubuh hewan ketika masih berumur 4 bulan di kandungan ibunya.

Dengan demikian, kita sebagai hewan memiliki dua unsur dari dua alam yang berbeda dan besok akan kembali ke tempatnya masing-masing. Tubuh kita kembali ke tanah atau air karena asalnya dari alam fisik dan hati kita (al-nafs) ke ‘alam ghaib.

Kesadaran tentang bagaimana mengenali dan mengelola al-nafs seperti ini, setiap dari kita perlu memilikinya. Di alam fisik, dengannya kita bisa mengelola emosi secara tak terbatas, tidak mudah marah, dan bisa menangkap pertanda-pertanda yang orang pada umumnya tidak. Di ‘alam ghaib, dengannya al-ruh dalam diri kita bisa menari bebas ke mana pun dan kapan pun.—zv