Ushuluddin, Berita – Pada pertemuan ke-7 program pendampingan qira’atul kutub, Lembaga Studi Ilmu Al-Quran dan Hadis (LSIQH) Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta membahas empat sifat dasar yang ada dalam diri manusia. Dengan mengenali sifat-sifat ini, seseorang bisa lebih mudah untuk mengenali hakikat dirinya.
Mengenali diri, menurut Imam Ghazali, adalah pintu masuk untuk mengenali Gusti Allah. Bila seseorang tidak mampu mengenali hakikat dirinya sendiri, mustahil baginya mengenal Tuhan.
Pendamping program qira’atul kutub Muhammad Saifullah mengatakan bahwa dalam membangun argumentasinya tersebut Imam Ghazali mengutip ayat Al-Quran dan Hadis.
Ayat yang dikutip adalah Surah Fussilat (41):53 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Adapun hadis yang digunakan berbunyi man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu (Siapa yang mengenali hakikat dirinya, maka dia benar-benar telah mengenal Gusti Allah).
“Penting dicatat, tradisi Islam itu adalah tradisi teks. Artinya, seperti apa konstruksi keilmuan dalam Islam, landasannya adalah Al-Quran dan Hadis dan ini tampak dalam teori kebahagiaan Imam Ghazali ini,” jelas Ipung, sapaan akrabnya, pada Sabtu (14/12).
Dalam kitabnya, Ipung melanjutkan, Imam Ghazali membagi sifat yang ada dalam diri manusia menjadi empat: sifat hewan ternak, sifat hewan predator, sifat setan, dan sifat malaikat.
Sifat hewan ternak adalah sifat-sifat yang dengannya manusia ingin selalu makan, minum, tidur, dan bercinta. Sifat hewan predator menunjuk keinginan untuk baku hantam. Sifat setan berhubungan dengan keinginan untuk bertindak culas dan sifat malaikat adalah keinginan untuk mengalami berdekatan langsung dengan Gusti Allah.
“Dari ulasannya, penting dicatat bahwa Imam Ghazali tidak menganjurkan kita untuk membuang sifat kebinatangan, tetapi mengelolanya,” ungkapnya.
Pendeknya, bila manusia bisa mengelola dengan baik empat sifat di atas—sebagai kondisi yang selalu ada dalam diri setiap manusia—maka ia akan menemukan jalan menuju kebahagiaan.
