Ushuluddin, Berita — Seminar Nasional bertajuk “Historiografi Hadis: Analisis Embrio, Pemetaan, dan Perkembangan” diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Hadis. Seminar tersebut diikuti lebih dari 110 mahasiswa dari Prodi Ilmu Hadis dan Ilmu Al-Qur’an, sebagai bagian dari penguatan kajian akademik mereka.
Seminar ini menghadirkan Dr. Ja’far Assagaf, M.A., pakar ilmu hadis sekaligus Sekretaris Umum Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (Asilha), yang membagikan perspektif luas seputar historiografi hadis — mulai dari fase embrionik, pemetaan keilmuan, hingga tantangan kontemporer.
Dalam pemaparannya, Dr. Ja’far menjelaskan bahwa embrio historiografi hadis lahir dari semangat para sahabat yang meneladani Nabi Muhammad, mencatat ucapan dan perbuatannya, serta merawat tradisi periwayatan secara turun temurun. Pemetaan kajian hadis kemudian berkembang menjadi disiplin yang mencakup biografi para perawi (rijal al-hadits) dan karya-karya historiografi klasik seperti al-sirah, al-tarikh, al-tabaqah, dan al-manaqib.
Lebih jauh, ia juga menyinggung tantangan historiografi hadis di era modern, mulai dari minimnya minat generasi muda terhadap studi klasik, hingga derasnya arus digitalisasi yang bisa mengaburkan keautentikan sumber. Namun, menurutnya, peluang tetap terbuka lebar, terutama jika generasi muda mau menguasai metodologi dan literatur klasik dengan pendekatan digital yang tepat.
“Strateginya adalah dengan menggabungkan semangat ilmuwan klasik dan kecanggihan teknologi saat ini. Digitalisasi bukan untuk menggantikan, tapi memperkuat tradisi keilmuan yang telah diwariskan ulama terdahulu,” tegas Dr. Ja’far.
Acara ini dipandu oleh Arif Nuh Safri, M.Hum., Kaprodi Ilmu Hadis IIQ An Nur Yogyakarta. Dalam komentarnya, ia menekankan pentingnya kajian historiografi hadis dalam menjaga autentisitas sumber ajaran Islam.
“Historiografi hadis bukan sekadar sejarah periwayatan, tapi juga berfungsi sebagai instrumen validasi dan autentifikasi. Di sinilah letak pentingnya menjaga agar sunah Nabi tetap terpelihara secara ilmiah dan historis,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin, yang diwakili oleh Dr. Abdul Jabpar, M.Phil, melalui sambutannya mengajak para mahasiswa untuk belajar dari semangat para ulama hadis klasik. Ia mengangkat kisah Imam Bukhari yang rela berjalan kaki dari Hijaz ke Bashrah demi mendapatkan satu hadis sahih sebagai bentuk dedikasi luar biasa terhadap ilmu.
Seminar ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang penuh antusiasme. Para peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga aktif bertanya dan merespons isu-isu aktual seputar studi hadis.
“Baru tahu kalau sejarah hadis sedalam dan serumit ini, tapi overall menarik dan menggugah keingintahuan kita untuk tahu banyak hal. Bicara sejarah itu pasti mrembet kemana-mana” ujar Fakih, salah satu mahasiswa peserta seminar.
Dengan semangat yang terus menyala, Prodi Ilmu Hadis IIQ An Nur berkomitmen untuk terus menyelenggarakan forum-forum ilmiah seperti ini demi membentuk generasi akademik yang tangguh dan cinta terhadap khazanah keilmuan Islam.
