Ushuluddin, Esai – Bagian pertama buku Kimiya’ al-Sa’adah karangan Imam Ghazali mengulas tentang tanda-tanda kita mengetahui nafs atau diri kita. Di sini, Imam Ghazali membedakan antara kimiya’ al-dhahiriyyah dan kimiya’ al-sa’adah. Imam Ghazali tidak menjelaskan tentang maksud dari kimiya’ al-dhahiriyyah, tetapi menghubungkannya dengan khaza’in al-awam dan khaza’in al-muluk.
Menurut beliau, kimiya’ al-dhahiriyyah tidak bisa terjadi di khazain al-awam melainkan di khazain al-muluk, yang hukum ini juga berlaku untuk kimiya’ al-sa’adah. Beliau tidak menyediakan penjelaskan tentang apa khazain. Meski demikian, ini bisa kita pahami sebagai perbendaharaan awam dan perbendaharaan khusus (khawwash).
Merujuk pada tulisan Al-Jurjani dalam Kitab al-Ta’rifat, al-awam (kimiya’ al-awam) adalah upaya dari kelas masyarakat tertentu untuk mendapatkan kesenangan dengan mengorbankan kebahagiaan (akhirat) yang long last demi remah-remah dunia yang sementara (bi al-hitham al-dunyawiyy al-fani). Adapun kimiya’ al-khawwash atau al-muluk menunjuk upaya kelas masyarakat tertentu untuk mengalami kebahagiaan dengan memurnikan atau menjaga hati dari apa pun yang berbau ciptaan (kaun atau dunia seisinya) demi merengkuh pencipta (mukawwin).
Artinya, baik kimiya’ al-saadah ataupun kimiya’ al-dhahiriyyah merupakan suatu proses yang hanya bisa terjadi di lingkaran para khawwash, bukan lingkaran al-awam (dalam pengertian Ghazali). Proses apa? Proses untuk memurnikan hati dari berbagai model kaun demi suatu kebahagiaan yang abadi.
Pemurnian hati seperti ini sama dengan pemurnian yang dilakukan para ahli kimia di masa Imam Ghazali untuk menciptakan emas yang bagus. Jadi, begitulah kenapa istilah yang Imam Ghazali pakai adalah kimiya’.
Tentang kualitas emas ini, di bagian pertama bukunya, Imam Ghazali menyitir tentang cara-cara untuk mendapatkan kimiya’ al-sa’adah. Bagi Al-Ghazali, cara paling efektif untuk merengkuhnya adalah dengan menapaki jejak kenabian.
Kita, ungkap Al-Ghazali, telah difasilitasi oleh Gusti Allah dengan sekitar 124.000 Nabi. Setiap nabi telah memberi kita jejak tentang bagaimana mengelola nafsu, membersihkan diri dari perilaku yang tidak efektif, dan sebagainya.
Hanya saja, sudahkah kita menapaki itu? Atau mungkin pertanyaanku salah: apakah kita tahu bahwa para nabi memiliki jejak kenabian yang bisa kita replikasi? Atau pertanyaanku masih salah: apakah kita tahu bahwa kita punya nabi yang lebih layak ditiru daripada kebanyakan influencer TikTok?
Imam Ghazali tidak membatasi jalan menuju bahagia pada satu jalan tersebut, tetapi ungkapannya menyiratkan bahwa untuk bisa menciptakan suatu kebahagiaan yang bagus layaknya produk dinar yang berkualitas, kita tidak punya pilihan lain melainkan jalur kenabian.
Kita memang bukan nabi boy, tetapi kita punya nabi yang telah mewariskan kepada kita jalan yang bisa kita tapaki. Aman boy. Sans!
