Ushuluddin, Berita – Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Al-Husaini Awwamah, Pengasuh Darul Hadis Al-Awwamah Turki, membeberkan pandangan Syekh Awwamah tentang adab berbeda pendapat dalam hal ilmu dan agama di auditorium Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta pada Sabtu (18/1).
Dalam rangkaian acara ini, Syekh Muhyiddin mengawali pidatonya dengan menegaskan bahwa tema adab berbeda pendapat bukanlah isu yang remeh melainkan penting.
“Tema ini terlihat remeh memang, tapi hari ini soal adab adalah hal yang sangat penting,” ungkap beliau dalam Bahasa Arab.
Menurut Syekh Muhyiddin, ada perbedaan yang cukup signifikan antara ulama hari ini dan ulama masa lalu. Ulama masa lalu tidak perlu diktat untuk bisa santai dalam berbeda pendapat, tetapi ulama hari ini tidak bisa melakukannya tanpa ada buku khusus.
Syekh Awwamah yang tidak lain merupakan abah Syekh Muhyiddin—dan yang kitabnya berjudul Adab al-Ikhtilaf fi Masa’il al-Ilm wa al-Din sedang didiskusikan dalam seminar—menyadari hal tersebut, sehingga beliau mengarang kitab khusus untuk mengulasnya.
“Abah saya merasa perlu untuk menyusun kitab khusus yang nantinya bisa dipakai orang-orang ketika sedang berbeda pendapat di bidang ilmu dan agama,” jelasnya dalam diskusi yang dipandu oleh Kaprodi ILHA Arif Nuh Safri, M.Hum.
Ada dua hal umum yang menarik perhatian Syekh Muhyiddin tentang kitab ayahnya tersebut. Pertama adalah tentang perbedaan istilah antara khilaf dan ikhtilaf.
Khilaf merujuk pada perbedaan yang sudah mengakar dan bersifat radikal. Perdebatan di level khilaf bisa dipastikan berujung pada perpecahan. “Khilaf ini karena bisa menyebabkan perpecahan, sifatnya adalah buruk. Syarr,” ungkapnya.
Adapun ikhtilaf adalah perbedaan yang tampaknya mendasar, tetapi sebenarnya hanya bersifat permukaan. Ikhtilaf biasanya hanya disebabkan oleh hal-hal zahir yang sebab ini tidak sampai menimbulkan perpecahan.
“Dan apa yang saya ingin sampaikan di sini adalah yang ikhtilaf,” katanya dalam Seminar Internasional yang diterjemahkan langsung ke Bahasa Indonesia oleh Mas Fatir, murid Syekh Muhyiddin.
Lebih lanjut, Syekh Muhyiddin memaparkan bahwa ada tiga hal umum yang menyebabkan ulama Arab terlibat ikhtilaf di bidang ilmu dan agama: karakter akal, karakter teks (Al-Quran dan Hadis), dan karakter Bahasa Arab.
Semua ulama karena mereka manusia tentu memiliki pikiran dan pendapat masing-masing. Dari sisi teks, Al-Quran dan Hadis tampil dengan gaya Bahasa Arab yang umum dan sulit dipahami. Dari aspek Bahasa Arab sendiri, satu kata bisa dipahami dengan beberapa makna. Begitu pun sebaliknya.
“Dari sini, wajar sekali ikhtilaf selalu ada dan penting dicatat ikhtilaf bukanlah hal yang buruk. Ini tidak masalah. Para sahabat pun banyak yang berbeda pendapat,” jelas Syekh Muhyiddin.
Tentang perbedaan ini bahkan beliau sampai pada kesimpulan bahwa ikhtilaf adalah natural dan bila seseorang ingin menghapus itu, maka sama saja dengan menentang Tuhan.
“Tidak bisa. Itu sama saja dengan menentang Allah!” tegasnya.
Perlu diketahui, acara Seminar Internasional ini merupakan rangkaian acara dari Rihlah Ilmiah Syekh Muhyiddin di Indonesia yang sejak Jumat (17/1) hingga Ahad (19/1) sedang berada di Yogyakarta.
Pada pagi, Syekh Muhyiddin mengisi acara multaqa ulama dan siangnya mengisi Seminar Internasional dengan mahasiswa dan dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur yang di acara ini juga Syekh Muhyiddin memberi ijazah Kutub al-Sittah pada segenap peserta.
